• Medina Kamil

    Medina Kamil

    Terombang - ambing di Laut Arafuru dan terdampar di Pulau Tiga selama empat hari, menjadi pengalaman pertama Medina Kamil saat mulai menjadi presenter Jejak Petualang.

  • Gunung Rinjani

    Gunung Rinjani

    Ungkapan "Kalau sudah mendaki Gunung Rinjani, tak perlu lagi naik ke gunung lain," sepertinya memang benar adanya. Di sepanjang perjalanan saja, pendaki sudah dibuat kagum oleh pesona yang mampu memukau semua orang.

  • Galery Foto

    Galery Foto Pendakian Bawakaraeng

    Sebuah kenangan Pendakian Gunung Bawakaraeng Tanggal 28-30 Juli 2011 yang mungkin tidak akan pernah kami lupakan.

  • Video

    Video

    Video Sebuah Cerita dari Puncak Gunung Bawakaraeng.

  • Gunung Bulusaraung

    Gunung Bulusaraung

    Oke langsung to the point aja bro…. Disini saya rasa ndak perlu jelaskan apa itu mendaki???? Apa gunanya mendaki??? Bagaimana rasanya mendaki??? Karena saya hanya berharap suatu saat alam yang akan menjelaskandan menjawab pertanyaan itu..!!!

  • Mengapa Mendaki Gunung

    Mengapa Mendaki Gunung

    mengapa setiap pendaki gunung mau bersusah payah mendaki gunung berjam-jam, membawa bepuluh-puluh kilogram beban di punggung, dan meninggalkan kenyamanan empuknya kasur dengan memilih tidur di tenda.

Tampilkan postingan dengan label ADVENTURE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADVENTURE. Tampilkan semua postingan

5 Film Pendakian Gunung Terbaik

0 komentar
Selama ini film dengan tema pendakian gunung memang tak sepopuler film - film bertema lain seperti film percintaan atau film action. Tetapi walaupun begitu, ada cukup banyak film - film yang bertemakan tentang pendakian gunung. Baik bergenre dokumenter, action, horror, thriller, ataupun drama. Dari banyak judul tersebut, ada 5 Film Pendakian Gunung Terbaik menurut kami.

1. Nordwand a.k.a The North Face
Bercerita tentang 2 pendaki Jerman ambisius, Max Mehringer dan Karl Sedlmayer yang mencoba mendaki dinding utara Eiger, dijaman dimana Nazi menjadi partai yang berkuasa di Eropa. Keterbatasan peralatan dan teknik, kedua pendaki yang membawa nama Jerman ini mati di tengah gunung, ketika orang orang di basecamp pendakian berpesta atas keberanian mereka mendaki gunung maut tersebut. Tragis dan ironis.



Setelah kematian mereka, pendakian ke gunung Eiger ini ditutup, tapi tak mampu menahan ambisi para pendaki, karena "the first men to summit will be celebrated as Olympic heroes", and so the battles cry echoes through Europe: Attack the Eiger North Face!!!

Film ini diangkat dari kisah nyata, dan dikisahkan dalam film yang luar biasa, dramatis, dan tanpa katastropik seperti film Hollywood. Ini film yang pertama yang wajib di tonton oleh mereka yang mengaku pendaki gunung.

2. Seven Years in Tibet
Film ini juga diangkat dari kisah nyata pendaki gunung kenamaan, Heinrich Herrer, seorang Jerman, ketika mendaki Gunung Everest di Himalaya, dan pengalamannya terdampat di Tibet selama 7 tahun. Di sana ia tak sekedar mendaki gunung, tapi juga mendapatkan pengalaman spiritual langsung dari pemimpin Tibet, Dalai Lama. Di Tibet pulalah ia belajar kebijaksanaan timur, dimana manusia tak diukur dari prestasinya, tapi bagaimana ia menaklukkan diri sendiri.

www.belantaraindonesia.org

FYI, catatan Heinrich Herrer juga menjadi salah satu acuan dari team pendaki Mahitala ketika mereka menjelajahi pegunungan Jaya Wijaya di Papua beberapa tahun silam, menurut buku yang diterbitkan oleh Mahitala, Sudirman Range Trail. Film yang dibintangi Brad Pitt ini memang tak melulu menceritakan pendakian gunung, tapi juga kehidupan pribadi Heinrich Herrer, termasuk kisah cintanya.
 
3. Nanga Parbat
Seperti dua film diatas, film ini juga merupakan kisah pendaki besar, Reinhold Messner, ketika mendaki gunung Nanga Parbat. Banyak kisah terjadi dalam proses pendakian itu, dianggap hilang dan mati, namun akhirnya berhasil kembali, meski turun pada tempat yang berbeda, India.


4. Touching The Void
Film semi dokumenter ini berkisah tentang 2 pendaki Inggris, Joe Simpson dan Simon Yates, yang lolos dari kematiannya ketika mencoba mendaki Siula Grandre, unclimbed west face of a notorius 21.000 feet peak, di Peru.


5. The Wildest Dream
Film dokumenter ini merupakan perjalanan napak tilas Conrad Anker yang mencoba apa yang dilakukan oleh George Mallory dan Irvine saat mendaki Everest puluhan tahun lalu. George Mallory dan Irvine hilang saat mencoba mendaki puncak tertinggi di dunia itu.


Disini, Conrad Anker mencoba melakukan pendakian yang sama dengan pendakian Mallory, termasuk peralatannya. Film ini bagus, mengingatkan kita betapa luar biasanya para pendaki terdahulu, bahkan dengan alat seadanya, berambisi untuk mencapai puncak - puncak paling kejam sekalipun. Film yang dibuat oleh National Geographic ini lumayan bagus untuk menambah wawasan para pendaki gunung di jaman ini.
 
Itulah beberapa film yang bisa menjadi referensi bagi pembaca solata adventure. bagi yang mau nonton silahkan di cari di search engine.
 
Sumber: http://www.belantaraindonesia.org








Read more

Mengapa Mendaki Gunung?

0 komentar
Menjelang pagi di puncak Cikurai. Saya dan rombongan ditambah tiga orang rombongan lain dari Jakarta Timur dan satu orang pendaki solo dari Jawa Barat berdiri bersama-sama di atas lahan yang tidak lebih luas dari satu buah lapangan sepakbola. Tidak seberapa lama kami menunggu, langit sedikit demi sedikit menjingga dan semakin terang. Bulatan besar sang penjaga hari yang muncul dari timur terus meninggi sehingga lautan awan terlihat semakin jelas di sekeliling kami. Dari arah timur, potongan puncak gunung Slamet menyembul menembus awan sementara dari arah barat, bagian teratas segitiga Ciremai terlihat lebih besar. Di selatan, garis pantai selatan laut Jawa samar terlihat. Sebuah pemandangan surgawi yang membuat kami semua yang menyaksikannya begitu bersyukur.
Ilustrasi di atas rasanya sudah cukup untuk menjadi alasan mengapa setiap pendaki gunung mau bersusah payah mendaki gunung berjam-jam, membawa bepuluh-puluh kilogram beban di punggung, dan meninggalkan kenyamanan empuknya kasur dengan memilih tidur di tenda. Mendaki gunung memang memberikan keasyikan yang sulit didapatkan dari kegiatan wisata atau olahraga lainnya.
Saya sebetulnya jarang mendaki gunung, tidak mesti setahun sekali  melakukan pendakian. Seingat saya, terakhir saya melakukan pendakian adalah bersama teman-teman kantor dua tahun lalu ke Gunung Gede. Pengalaman mendaki begitu menarik bagi saya sehingga jujur saja saya kangen mendaki gunung. Berikut ini kira-kira yang menjadi alasan saya mendaki gunung:
  1. Wisata. Pada dasarnya, wisata adalah usaha manusia untuk memuaskan rasa ingin tahu akan tempat yang belum pernah didatangi. Wisata juga dilakukan untuk membuat suasana rileks dan santai, melarikan diri dari kepenatan aktivitas sehari-hari. Dengan mendaki gunung, saya mendapatkan dua hal itu sekaligus. Bahkan, walaupun gunung tersebut pernah didatangi, pengalaman mendaki gunung yang sama untuk kedua kalinya tetap saja berbeda dan mengasyikkan.

  2. Melatih manajemen. Mendaki tidak hanya sekedar persiapan fisik di rumah, lalu bawa tenda, ransel ukuran raksasa, kantung tidur, makanan lalu mendaki. Butuh perencanaan yang matang agar pendakian berjalan dengan nyaman. Sebelum melakukan pendakian biasanya ada perhitungan-perhitungan yang terkait dengan manajemen makan, perlengkapan kelompok, manajemen waktu, transportasi, dan perizinan.

  3. Belajar sabar. Pendakian yang sangat melelahkan akan membuat pertarungan di dalam diri setiap pendaki untuk melawan lelah dan memotivasi diri agar bisa sampai puncak. Seringkali hal ini tidak berjalan mulus, karena bisa jadi pada saat kondisi tubuh kita masih fit, ternyata ada satu orang teman kita yang tidak bisa melanjutkan perjalanan, sehingga kitapun harus ikut tidak melanjutkan perjalanan. Memang yang terpenting dalam pendakian bukanlah puncak, tapi proses untuk mengalahkan diri sendiri.

  4. Pengalaman batin. Mendaki gunung menjanjikan paket lengkap wisata fisik dan batin bagi yang melakukannya. Melihat keindahan hutan, mencium bau hujan yang bercampur humus, dan pemandangan surgawi di puncak, membuat kita kesulitan sama sekali dalam membuat daftar hal-hal untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak eksis.
Pasti ada lebih banyak lagi alasan kenapa seseorang mendaki gunung yang bisa dituliskan oleh pendaki lain. Pengalaman mendaki gunung tidak pernah tergantikan, karena seperti kutipan terkenal dari seorang pendaki legendaris, George Mallory ketika ditanya mengapa ingin mendaki gunung Everest, jawabannya adalah: Because it’s there. Sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam.


Read more

Pesona Gunung Rinjani Sepanjang Jalan

1 komentar
Ungkapan "Kalau sudah mendaki Gunung Rinjani, tak perlu lagi naik ke gunung lain," sepertinya memang benar adanya. Di sepanjang perjalanan saja, pendaki sudah dibuat kagum oleh pesona yang mampu memukau semua orang.

www.belantaraindonesia.org

Ada 2 jalur pendakian, yaitu Jalur Sembalun dan Jalur Senaru. Di Jalur Sembalun, pendaki akan melalui hamparan padang savana. Track di jalur ini cukup landai, namun berliku. Ada 3 pos peristirahatan di jalur ini. Selepas Pos 3, pendaki akan mengahadapi tanjakan terjal dengan kemiringan sekitar 60 derajat.

Di jalur lainnya, yaitu Jalur Senaru, pemandangan akan terlihat sangat berbeda. Di sini pendaki akan melewati hutan tropis yang cukup lebat. Sama halnya dengan Jalur Sembalun, jalur ini juga terdapat 3 pos peristirahatan sebelum sampai ke Pelawangan yang biasa digunakan sebagai camp area.

Lelah sudah pasti akan Anda rasakan. Akan tetapi, pemandangan yang disuguhkan selama di perjalanan sangat indah. Lelah yang Anda rasakan akan terbayar lunas, bahkan lebih.

Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, diyakini sebagian masyarakat Lombok sebagai tempat bersemayam ratu jin bernama Dewi Anjani, putri raja Datu Tuan dari permaisurinya Dewi Mas, yang memerintah sebuah kerajaan kecil di Lombok.

www.belantaraindonesia.org

Terlepas dari legenda itu, Gunung Rinjani merupakan salah satu destinasi andalan Kabupaten Lombok Utara. Gunung tertinggi di Provinsi Nusa Tenggara Barat ini menyimpan sejuta pesona dan memiliki potensi geowisata yang menarik.

Di antara daya tarik gunung api itu adalah panorama kaldera, danau, puncak, kawah, air terjun, mata air panas, goa, lubang letusan dan aliran lava baru. Pesona yang dimiliki gunung yang diyakini menjadi istana Ratu Jin Dewi Anjani ini nyaris sempurna. Selain memiliki berbagai keunikan, Gunung Rinjani juga kaya dengan berbagai jenis flora dan fauna. Di sebelah selatan dan barat pada ketinggian 1.000 - 2.000 meter banyak ditumbuhi Dysoxylum sp, pterospermum, dan Ficus superba.

Pada ketinggian 2.000 - 3.000 meter banyak tumbuh cemara gunung ( Casuarina junghuhniana ). Namun pada ketinggian diatas 3.000 meter miskin akan tumbuhan, hanya ditumbuhi rumput dan bunga Edelweiss ( Anaphalis javanica ) dan di sebelah timur gunung banyak ditumbuhi pohon akasia. Selain itu tercatat 109 jenis burung hidup di Gunung Rinjani. Beberapa diantaranya adalah jenis burung yang ada di Australia, monyet perak yang berasal dari Bali, rusa dan landak.

www.belantaraindonesia.org

Sementara di Pelawangan Sembalun, Lombok Timur terdapat monyet ekor panjang yang suka mengganggu kemah para pendaki. Mereka sangat pandai membuka tenda untuk mengambil makanan dan dikenal sangat garang dan berani.

Berbagai pesona itulah menjadi magnet yang mampu menarik minat wisatawan mancanegara maupun nusantara untuk mendaki gunung yang memiliki ketinggian hampir empat kilometeritu. Para wisatawan yang mendaki gunung itu adalah wisatawan minat khusus yang menyukai tantangan.

Di balik sejuta pesona yang dimiliki gunung api itu, sebenarnya Gunung Rinjani merupakan salah satu dari enam gunung di Indonesia yang cukup bahaya untuk didaki. Karena itu tidak berlebihan kalau Rinjani dijuluki obyek wisata "maut".

www.belantaraindonesia.org

Hingga kini gunung yang disebut - sebut banyak menyimpan misteri itu telah menelan cukup banyak korban jiwa. Cuaca buruk disertai datang secara tiba - tiba terkadang menyebabkan pendaki tersesat dan akhirnya ditemukan tak bernyawa.

Sebagai contoh, pada 10 Maret 2007, tujuh pelajar asal Pulau Lombok yang mendaki Gunung Rinjani ditemukan tewas di wilayah perbatasan Pelawangan, Sembalun dengan Danau Segara Anak. Ketujuh korban pelajar dan mahasiswa yang mendaki Gunung Rinjani itu tewas akibat terjebak cuaca buruk dan kehabisan makanan. Dugaan kuat terjebak cuaca buruk, karena jenazah mereka ditemukan tidak di dalam jurang.

Selanjutnya pada 29 Juni 2010, pendaki asal Italia Federica Frovera ditemukan tewas diGunung Baru Jari ( anak Gunung Rinjani ). Korban tewas diduga akibat kelelahan setelah mandi di Danau Segara, saat mendaki selama satu minggu.

www.belantaraindonesia.org

Saat itu korban berada di kilometer 8,3 dari Danau Segara menuju Pelawangan Senaru. Saat itu Gunung Barujari yang berada di kaldera Gunung Rinjani sedang berstatus waspada, dan  masih mengeluarkan letusan kecil dengan asap tebal setinggi 300 meter.

Masih banyak pendaki lain yang tewas akibat "keganasan" Gunung Rinjani. Bahkan hampir setiap tahun gunung yang menyimpan banyak misteri itu menelan korban jiwa.

Karena itu setiap tahun Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengeluarkan larangan untuk mendakian gunung api tersebut. Penghentian sementara aktivitas pendakian biasanya berlangsung dua hingga tiga bulan terutama pada saat terjadinya cuaca buruk termasuk pada 2013.

Sumber: http://www.belantaraindonesia.org


Read more

Medina Kamil Si Pecandu Ketinggian Anti Jera

0 komentar
Terombang - ambing di Laut Arafuru dan terdampar di Pulau Tiga selama empat hari, menjadi pengalaman pertama Medina Kamil saat mulai menjadi presenter Jejak Petualang. Mungkin hal ini bisa membuat nyali siapa pun ciut. Namun, tidak begitu baginya, justru semakin merasa tertantang menyelusuri keindahan alam Indonesia.

Pengalaman sebagai presenter teve di Jejak Petualang, membuat saya  menjadi pecinta alam Indonesia sejati. Kalau ditanyakan seperti apa keindahan alam Indonesia? Spontan saya menjawab, Indonesia merupakan surganya keindahan alam. Tidak ada bandingannya.

Tempat favorit saya  adalah Papua. Belum ada yang bisa mengalahkan keindahan alam Papua. Apalagi di sana benar - benar belum terjamah banyak tangan. Hutan - hutan yang masih perawan, serta lautnya juga masih bagus.

Kalau untuk daerah eksplorasi, saya lebih suka ke daerah pantai dibanding ke gunung atau tebing. Di pantai itu banyak keindahan bawah laut yang bisa kita lihat. Ada terumbu karangdan biota laut.  Apalagi saya suka banget snorkeling dan diving. Jadi pantai adalah kesukaan pertama saya kalau jalan - jalan. Saya suka Raja AmpatWakatobi, Kepulauan Togian dan lainnya. Tapi kalau mau pergi ke pantai yang tidak terlalu jauh, pantai - pantai di Kepulauan Seribu juga masih banyak yang bagus dan bersih. 

Kalau ditanya soal suka duka menjadi presenter traveling. Saya sih lebih banyak sukanya, karena jalan - jalan gratis. Tetapi kadang - kadang juga ada dukanya. Dukanya itu kalau lagi ke suatu tempat yang bagus, tapi waktu shooting nya cuma sebentar. Jadinya tidak bisa santai dan liburan sejenak.

Apalagi kalau kebetulan bertemu penduduk yang tidak bisa diajak kerja sama.  Mau marah tidak bisa, kalau didiamin kok jadi  gondok. Ya yang kayak gitu deh yang bikin jadi bad mood. Apalagi kalau pergi ke suatu tempat terlalu lama, padahal tidak begitu banyak yang harus dikerjakan disana, kadang - kadang bosan juga.


Untuk urusan pasangan, saya memang tidak terlalu pilih - pilih banget. Yang penting pasangan saya harus pengertian. Dalam arti mengerti kesibukan dan pekerjaan saya. Saya paling nggak suka kalau lagi kerja selama berminggu - minggu terus ditanyain kenapa nggak pulang  atau telepon. Wah kalau seperti itu  bukan tipe saya deh. Untungnya pasangan saya sekarang, orangnya pengertian dan suka juga jalan - jalan seperti saya.

Sumber.www.belantaraindonesia.org


Read more

Gunung Pangrango di Jawa Barat Merupakan Gunung Favorit Soe Hok Gie

0 komentar

Gunung Gede dari puncak Pangrango.jpg

Gunung Pangrango di Jawa Barat bisa dibilang sebagai gunung favorit Soe Hok Gie. Sebab, di sanalah dirinya membuat banyak puisi. Mendaki gunung ini sambil melewati Lembah Mandalawangi, seolah menelusuri napak tilas Gie.

Bicara tentang keindahan, Gunung Gede (2.958 mdpl) lebih menarik ketimbang Gunung Pangrango (3.019 mdpl). Dari Gunung Gede ada banyak spot yang dilihat. Pemandangan Kota Bogor di ketinggian, kawah bekas letusan serta dataran seluas 50 hektar yang dipenuhi bunga abadi edelweiss di alun-alun Surya Kencana.

Namun, pesona Soe Hok Gie membuat Pangrango menjadi gunung yang paling rajin didaki. Puisi-puisi Gie tentang Mandalawangi menciptakan romantisme buat para perempuan dan semacam panutan bagi pendaki pria yang mereka ingin menjadi seperti Gie.

Pangrango menjadi legenda hidup, tempat favoritnya 'sang demonstran', seseorang yang memilih untuk tersingkirkan ketimbang takluk pada kemunafikan. Mendaki Pangrango menjadi semacam napak tilas bagi penggemar Gie untuk melakoni apa yang dilakukan idolanya dulu.

Setidaknya itulah yang saya amati ketika mendaki Pangrango pertengahan April lalu. Wajah-wajah berhias semangat mengisi warung-warung yang ada di seputaran Cibodas. Berjaket tebal dengan carrier tergantung di pundak plus matras yang digulung tersampir di pinggir carrier.

Gaya para pendaki ini luar biasa ciamik. Tidak kalah dengan para pendaki profesional yang sering kita lihat di televisi. Euforia film '5 Cm' telah menaikkan level gunung menjadi beberapa tingkat lebih keren dibanding sebelumnya.

Saya sendiri, bergabung dengan para pendaki ini bukan karena ingin menjadikan puncak sebagai display picture untuk smartphone atau menghiasi laman jejaring sosial. Lebih kepada magnet Gie yang sangat memuja Mandalawangi dan Pangrango. Sehingga timbul rasa penasaran, seberapa luar biasa Mandalawangi dan Pangrango?

Apa benar kabut tipis itu turun pelan-pelan di Mandalawangi? Seberapa suram hutan di Mandalawangi sehingga puisinya Gie begitu muram? Sebegitu cantiknyakah, matahari yang mucul di Pangrango?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengikuti saya di sepanjang pendakian. Membuat saya ingin segera menjejakkan kaki di sana dan membuktikan apa-apa yang dituliskan Gie pada puisinya. Namun, perjalanan ke menuju Pangrango bukanlah perjalanan yang gampang.

Butuh sekitar tujuh jam untuk mencapai Pos Kandang Badak, pos tempat para pendaki biasa berkemah sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak. Dan dalam kurun waktu tujuh jam itu, jalan yang dilewati berundak-undak, mendaki, halangan batang pohon tumbang, sungai panas dari sumber Kawah Gunung Gede dan lain-lain.

Dari Pos Kandang Badak menuju puncak Pangrango lebih sadis lagi. Jalannya menanjak, dengan halangan batang-batang pohon tumbang dan tanah yang lembek. Butuh waktu lebih kurang empat jam untuk sampai ke atas

Sebenarnya kalau dibanding-bandingkan, jalur Cibodas jauh lebih gampang ketimbang jalur yang lain. Ibarat pepatah mengatakan, 'banyak jalan menuju Roma' sama halnya juga, 'banyak jalan menuju Pangrango'.

Masih ada sekira 15-20 jalur lain menuju Pangrango. Namun ada tiga yang umum, biasa dilewati yaitu Cibodas, Gunung Putri (arah Cianjur) dan Selabintana (Sukabumi). Ada juga jalur Geger Bentang yang sering digunakan untuk latihan tim SAR.

Jalur Cibodas adalah yang cukup ramah, apalagi buat pendaki pemula. Anda bisa berhenti beberapa kali, menenggak air mineral, mengulum cokelat, mencecap gula Jawa dilakukan untuk untuk menambah tenaga.

Selain lelah, ada kekhawatiran kalau saya dan teman-teman tidak sampai sesuai dengan waktu yang ditentukan. Sebabnya kami sudah menghitung-hitung waktu, mesti tiba pukul sekian supaya sempat melihat sunrise. benar saja, kami terlambat dan tak bisa menyaksikan sunrise. Meski begitu, penyesalan tersebut memudar karena konsentrasi terfokus untuk melewati jalan terjal.

Saya dan teman-teman secara tidak sadar mulai menikmati perjalanan ini. Menikmati rasa lelah, kaki yang sakit, betis yang kram, keringat yang lengket, tanah yang mengotori kaos dan celana. Membuat saya berpikir, rasa lelah membuat kita sempat menikmati alam sebenar-sebenarnya. Jika hanya sunrise dan puncak saja yang menjadi tujuan kita mendaki gunung, betapa banyaknya hal-hal kecil yang kita lewatkan.

Tak terasa, saya dan teman-teman sampai di 3.019 mdpl. Sebenarnya di pertengahan 3.019 mdpl, aroma puncak sudah mulai terasa. Pohon-pohon, mulai kelihatan ujungnya dan tidak lagi menjadi atap hutan, langit menggantikan tempatnya.

Gunung Gede mulai terlihat, bentuknya yang melebar mirip perempuan bertubuh bongsor. Sangat berbeda dengan Pangrango yang ramping dan proporsional. Puncak Pangrango tidak begitu luas, mungkin hanya muat 3-4 tenda. Dari atas yang terlihat hanyalah Gunung Gede dan arakan awan putih dengan latar langit biru.

Untuk sampai ke lembah cintanya Gie, kita harus turun lagi sekira 2 jam. Hamparan pucuk-pucuk edelweiss yang hampir mekar memenuhi padang yang tak begitu luas itu. Segaris sungai membelah antara padang yang satu dengan padang yang lain.

Sebelumnya, saya sempat mereka-reka, bagaimana reaksi saya ketika sampai di atas. Ternyata, euforia Pangrango dan Mandalawangi hanya membara di bawah kaki gunung saja.

Sesuatu yang begitu kita inginkan menjadi hal yang tidak lagi istimewa ketika kita berhasil mendapatkannya. Mungkin benar yang dikatakan filsuf Slavoj Zizek: We don’t really want what we think we desire.

Seorang teman yang sudah mendaki hampir seluruh gunung di Jawa mengatakan itulah yang disebut dengan obsesi. Terkadang obsesi begitu membutakan sampai-sampai kita hanya terpaku pada tujuan dan mengabaikan proses.

Kita bukan pemburu sunrise, penakluk gunung atau ingin menjadi sama seperti Gie. Kita cuma penikmat alam yang mendaki gunung… Yah..., cuma untuk menikmati alam..

Foto.


Kuncup edelweiss.jpg  Lembah Mandalawangi.jpg  Puncak Pangrango.jpg

Sumber. detik.com


Read more

Sebuah Cerita dari Puncak Gunung Bawakaraeng

0 komentar


Read more
Jadilah blogger yang cerdas, ingat sumber artikel anda.. Diberdayakan oleh Blogger.